Belajar JKN Lewat WhatsApp, Begini Cara Prodi Adminkes ITSBM Selayar Dekati Tenaga Kesehatan yang Sibuk

  • DATE

    June 24, 2026

Kabar thumbnail

ITSBM Selayar - Pagi itu, ruang pertemuan UPTD Puskesmas Bontomate’ne dipenuhi wajah-wajah yang akrab dengan rutinitas melayani pasien sehari-hari. Namun Rabu (24/6/2026) ini berbeda. Alih-alih menangani pasien, lima belas tenaga kesehatan dan staf puskesmas duduk sebagai peserta, mengikuti sesi pertama sebuah program belajar yang dirancang agar tidak mengganggu jam kerja mereka: Microlearning Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat yang diketuai oleh dr. Astari Pratiwi Nuhrintama, M.Kes (MARS) mengangkat tema Integritas Layanan JKN dan Pencegahan Penyimpangan Administratif, dilaksanakan oleh Program Studi Administrasi Kesehatan Institut Teknologi Sains dan Bisnis Muhammadiyah (ITSBM) Selayar selama enam pekan melalui metode microlearning.

Program ini lahir dari satu pertanyaan sederhana: bagaimana cara mengedukasi tenaga kesehatan yang waktunya sudah habis melayani pasien? Jawabannya ada di ponsel pintar yang hampir selalu di tangan mereka.

Hari ini, dua dari lima modul yang dirancang disampaikan langsung secara tatap muka: “Kartu JKN-ku, Hak-ku” dan “Ke Puskesmas Pakai BPJS: Jangan Salah Langkah”. Tiga modul sisanya akan menyusul lewat jalur yang lebih akrab bagi peserta sehari-hari grup WhatsApp dalam tiga pekan mendatang.

media_20260624_164527_ed48405ed072.jpeg

Kegiatan ini turut mendapat perhatian dari jajaran pimpinan kampus. Pimpinan ITSBM Selayar hadir bersama Yanuar Taufiq, S.Sos., M.M., Kepala Biro Akademik, Perencanaan, dan Kerja Sama (Kabiro APAK) serta Syamsul Maarif, S.Sos., Kepala Biro Administrasi, Keuangan, dan Kepegawaian Umum (Kabiro AKKU), menandakan bahwa program pengabdian skala kecil ini mendapat dukungan penuh dari level pengambil kebijakan di kampus.

Yang menarik, Kepala BPJS Kesehatan Selayar, Muhammad Ayyub yang hadir tidak hanya memberikan sambutan seremonial. Ia turun langsung membawakan materi pengantar tentang program JKN secara umum. Kehadiran BPJS Kesehatan dalam posisi aktif semacam ini bukan sekadar tamu undangan menjadi sinyal bahwa pelatihan ini bukan kegiatan seremonial belaka.

Sebelum masuk ke materi, seluruh peserta lebih dulu mengisi pre-test sebagai potret awal pemahaman mereka tentang JKN. Angka inilah yang nanti akan dibandingkan dengan hasil post-test di akhir program, untuk melihat apakah metode belajar singkat lewat ponsel benar-benar mampu mengubah pemahaman, atau sekadar formalitas yang lewat begitu saja.

Usai dua modul disampaikan, suasana berubah jadi diskusi. Peserta saling melempar pertanyaan kepada narasumber, sebagian berdasarkan pengalaman nyata yang mereka temui saat melayani pasien JKN sehari-hari. Sesi ini ditutup dengan kuis singkat sebagai pengukur pemahaman masing-masing modul.

Tapi cerita program ini belum selesai. Tiga pekan ke depan, ponsel para peserta akan kembali bergetar membawa video singkat berisi modul “Etika Klaim dan Layanan Wajar”, “Literasi Informasi JKN: Bijak Sebelum Percaya”, dan “Jalur Pengaduan JKN: Mudah dari Mana Saja” masing-masing hanya berdurasi beberapa menit, namun dirancang untuk tetap menempel di kepala.

Ketiga modul berikutnya melibatkan kolaborasi dosen dan mahasiswa dengan pembagian peran yang jelas. Para dosen bertindak sebagai fasilitator yang merancang materi dan memandu jalannya setiap modul, sementara mahasiswa berperan sebagai eksekutor di balik produksi video pembelajaran yang nantinya dikirimkan melalui WhatsApp.

Di ujung program, soal yang sama dengan pre-test hari ini akan kembali diujikan. Jika angkanya naik signifikan, boleh jadi metode belajar lewat WhatsApp ini layak dicoba di puskesmas-puskesmas lain yang punya masalah serupa: tenaga kesehatan yang ingin belajar, tapi tidak punya cukup waktu untuk duduk di kelas.

Kabar Lainnya